Ibu Hamil Konsumsi Sabu, Ini Efeknya pada Janin

Administrator - Selasa,27 Februari 2018 - 16:15:59 wib
Ibu Hamil Konsumsi Sabu, Ini Efeknya pada Janin
Ibu Hamil Konsumsi Sabu, Ini Efeknya pada Janin. Valeria Aksakova/Shutterstock/kdc

Jakarta: “Ratu Dangdut” Elvy Sukaesih sedang terpukul karena anak-anak dan menantunya terjerat narkoba jenis sabu. Mereka ditangkap pihak kepolisian pada Jumat, 16 Februari 2018 lalu. Kasus ini makin menggegerkan karena pada saat diciduk, menantunya sedang hamil enam bulan.

 

Sebagian besar orang sudah mengetahui dampak sabu-sabu terhadap kesehatan tubuh. Namun, bagaimana efeknya terhadap perkembangan dan pertumbuhan janin, ketika ibu hamil mengonsumsi narkoba jenis ini?.

 

Efek buruk sabu-sabu

 

Sabu atau metamfetamin adalah salah satu jenis narkoba yang paling sering dikonsumsi. Sabu berbentuk kristal putih seperti gula. Penggunaannya dapat dengan berbagai cara, seperti menghirup, mengisap, atau menyuntikan dengan jarum.

 

Sabu merupakan obat psikostimulansia dan simpatomimetik yang memengaruhi sistem saraf pusat. Penggunanya akan mengalami efek euforia, hiperaktif, bertenaga tetapi nafsu makan menurun. Mereka juga akan lebih percaya diri dan konsentrasi. Selain itu, efek lainnya dapat berupa mulut kering, gemetar, berkeringat, peningkatan tekanan darah, dan detak jantung.

 

Efek sabu sangatlah kuat dan berbahaya, serta dapat menyebabkan kecanduan sejak pertama kali digunakan. Selain ketergantungan, dampak negatifnya meliputi peningkatan risiko hepatitis dan HIV/AIDS akibat penggunaan jarum suntik, penurunan berat badan secara drastis, kekurangan gizi, gangguan pola tidur, insomnia, agresivitas, kebingungan, halusinasi, bahkan depresi.

 

Pada jangka panjang, penggunaan sabu dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah yang permanen. Hal ini kemudian dapat mengakibatkan strok dan kerusakan hati, ginjal, paru-paru, serta otak. Pemakaian dosis yang berlebihan juga dapat berujung pada kematian.

 

Bahaya sabu-sabu bagi ibu hamil

 

Penggunaan sabu-sabu pada ibu hamil juga dapat ditemukan, seperti pada kasus menantu Elvy Sukaesih. Sabu pada wanita hamil dapat memengaruhi sang calon ibu dan bayi. Journal of Addiction Medicine menerbitkan sebuah penelitian terhadap 144 ibu hamil yang menggunakan sabu-sabu.

 

Dalam studi tersebut ditemukan bahwa penggunaan sabu-sabu pada ibu hamil akan memberikan efek sabu yang sama seperti yang lain. Ibu hamil pemakai sabu-sabu biasanya tidak melakukan pemeriksaan antenatal secara teratur, sehingga lebih sering terjadi komplikasi dalam kehamilan.

 

Kecanduan sabu-sabu saat hamil dapat menyebabkan kelahiran prematur dan berat badan lahir bayi rendah. Kedua hal tersebut dapat meningkatkan risiko morbiditas (penyakit) dan mortalitas (kematian) ibu serta bayi. Selain itu, sabu-sabu pada kehamilan juga berhubungan dengan hipertensi kronis dan persalinan melalui caesar.

 

Studi juga menunjukkan bahwa pada ibu hamil yang berhenti mengonsumsi sabu-sabu kapan pun pada masa kehamilan mereka, menunjukkan adanya perbaikan terhadap kehamilan dan bayi mereka. Karena itu, pada ibu hamil yang pemadat, tujuan terapi adalah untuk mengobati kecanduan dan meningkatkan jumlah pemeriksaan prenatal.

 

Pada kondisi medis tertentu, dokter dapat memberikan narkoba sebagai terapi, terutama untuk efek menghilangkan rasa nyeri. Salah satu contohnya adalah morfin. Namun, penggunaan obat golongan narkotika tersebut harus diawasi oleh dokter ahli.

 

Narkoba tidak boleh digunakan sembarangan oleh masyarakat umum. Pemakaian obat terlarang tersebut dapat memberikan efek negatif pada kesehatan. Tidak hanya kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental.

 

Ingatlah bahwa mengonsumsi sabu amat berbahaya untuk semua orang, termasuk ibu hamil. Karena itu, jauhilah narkoba karena akan membuat kecanduan dan segudang masalah kesehatan lainnya. 

 

rs/rvs/kdc