Bank BUMN Raup Untung Rp52 Triliun dalam Tiga Kuartal

Administrator - Kamis,26 Oktober 2017 - 17:02:11 wib
Bank BUMN Raup Untung Rp52 Triliun dalam Tiga Kuartal
Keuntungan atau laba bersih Bank BUMN hingga kuartal III 2017 tersebut naik 18,7 persen pada dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Cnni

Jakarta: Keempat bank plat merah membukukan laba bersih konsolidasi dalam sembilan bulan pertama tahun ini mencapai Rp52,5 trilun. Keuntungan tersebut naik 18,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy) sebesar Rp44,23 triliun.

 

Berdasarkan laporan keuangan bank-bank BUMN yang ditelusuri awak media, kenaikan laba bank-bank tersebut antara lain didorong oleh penyaluran kredit yang tumbuh cukup baik dibandingkan industri. Dari keempat bank tersebut, hanya BRI yang membukukan kredit di bawah 10 persen atau 9,8 persen (yoy) menjadi Rp682,6 triliun. Adapun, penyaluran kredit perbankan per Agustus hanya tumbuh 8,4 persen (yoy).

 

Pertumbuhan kredit tersebut mendorong pendapatan bunga bersih pada BRI dan BTN pada kisaran 12 persen. Hingga september, pendapatan bunga bersih BRI naik dari Rp49,27 triliun menjadi Rp55,13 triliun. Pendapatan bunga bersih BTN naik dari Rp12,82 triliun menjadi Rp13,43 triliun.

 

Sementara itu, pendapatan bunga bersih Bank Mandiri hanya naik 4,3 persen (yoy) menjadi Rp59,31 triliun, sedangkan BNI naik 7,5 persen (yoy) menjadi Rp23,51 triliun.

 

Pertumbuhan pendapatan bunga bersih Bank Mandiri dan BNI terbilang rendah karena margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) kedua bank tersebut turun cukup dalam pada kuartal ketiga tahun ini. NIM Bank Mandiri turun dari 6,53 persen pada kuartal III 2016 menjadi 5,68 persen. NIM BNI turun dari 6,2 persen menjadi 5,5 persen.

 

Sementara itu, NIM BRI turun tipis dari 8,24 persen menjadi 8,13 persen dan NIM BTN turun dari 4,59 persen menjadi 4,49 persen.

 

Kendati membukukan pendapatan bunga masih tinggi, laba BRI memang tumbuh paling rendah akibat tambahan biaya pencadangan yang dikeluarkan perseroan untuk menghadapi kredit bermasalah (Non Peforming Loan/NPL). BRI hingga kuartal ketiga tahun ini menambah biaya pencadangan Rp15,45 triliun, lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu Rp11,2 triliun. Padahal, NPL kotor (gross) perseroan hanya naik tipis dari 2,22 persen menjadi 2,23 persen.

 

Sementara itu, Bank Mandiri justru menurunkan tambahan biaya pencadangan dari Rp15,91 persen pada periode yang sama tahun lalu menjadi Rp12,22 triliun. Padahal, NPL gross perseroan tak turun cukup signifikan atau hanya turun dari 3,81 persen menjadi 3,71 persen.

 

“Kami berusaha terus menjaga kualitas kredit, terlihat saat ini sudah menurun dan kami targetkan bisa menyentuh 3,5 persen pada akhir tahun,” ujar Direktur Utama Bank Mandiri, baru-baru ini.

 

Hal serupa juga dilakukan BNI dengan menurunkan tambahan biaya pencadangan dari Rp6,33 triliun menjadi Rp4,81 triliun.

 

Penurunan tambahan biaya pencadangan ini lah yang menjadi salah satu pendorong utama kenaikan laba kedua bank BUMN tersebut.

 

BNI bahkan optimis, hingga akhir tahun ini, dapat membukukan pertumbuhan laba bersih dikisaran 30 persen. Direktur Keuangan BNI Rico Rizal Budidarmo mengaku proyeksi laba tersebut dapat tercapai sepanjang kredit perseroan bisa tumbuh di kisaran 13-14 persen hingga akhir tahun.

 

Selain ditunjang oleh penyaluran kredit dan penurunan biaya pencadangan, laba bank-bank BUMN juga didorong oleh pendapatan nonbunga. Bank Mandiri misalnya, mencatatkan kenaikan pendapatan nonbunga sebesar 18,4 persen (yoy) menjadi Rp16,84 triliun.

 

BTN bahkan mencatatkan pendapatan nonbunga hingga September naik 35,5 persen (yoy) menjadi Rp1,21 triliun. Sementara BNI dan BRI mencatatkan pendapatan nonbunga masing-masing tumbuh 15,1 persen (yoy) dan 11,5 persen (yoy).

 

Sementara itu, hasil riset Mandiri Sekuritas menyebut, beberapa bank besar di penghujung kuartal ketiga sempat memangkas bunga depositonya, termasuk Bank Mandiri, BRI, dan BNI. Dari ketiga bank tersebut, BRI dan BNI disebut akan memperoleh keuntungan paling besar dari pemangkasan bunga deposito tersebut karena memiliki rasio dana murah yang relatif lebih tinggi.

 

Mandiri Sekuritas juga memproyeksi bank-bank tersebut akan mengalami kontraksi biaya dana yang lebih besar pada beberapa kuartal ke depan. Penurunan biaya dana tersebut pun pada akhirnya dapat mendorongkrak keuntungan bank.  

 

agi/cnni