Rohingya Bukan Satu-satunya Etnis Korban Persekusi di Myanmar

Administrator - Jumat,15 September 2017 - 23:29:30 wib
Rohingya Bukan Satu-satunya Etnis Korban Persekusi di Myanmar
Amnesty International menyebutkan, etnis Muslim Rohingya di Rakhine bukan satu-satunya etnis yang menjadi incaran diskriminasi dan kekerasan di Myanmar. AFP Pic/K M Asad/Cnni

Jakarta: Amnesty International menyebutkan bahwa etnis Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine bukan satu-satunya etnis yang menjadi incaran diskriminasi dan kekerasan di Myanmar.

“Kita perlu ingat juga, populasi non-Rohingya lainnya di Rakhine turut alami persekusi dan kekerasan dari militer. Ratusan populasi Buddha di Rakhine juga banyak yang menjadi sasaran dan mereka berusaha melarikan diri,” kata Peneliti Amnesty International untuk Myanmar, Laura Haigh melalui teleconference dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (15/9).

Direktur Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, membenarkan hal tersebut. Ia bahkan mengatakan, militer Myanmar juga mempersekusi etnis minoritas di negara bagian lainnya, seperti Kachin, yang berbatasan langsung dengan China.

Di wilayah itu, warga asli dan otoritas Myanmar memang dilaporkan sering terlibat bentrok dengan etnis Karen, Kokang, dan Chin, yang berparas seperti orang Tiongkok.

Sekitar Maret lalu, ribuan warga Myanmar di perbatasan Kachin dilaporkan melarikan diri ke China setelah setidaknya 30 orang tewas dalam bentrokan antara militer dan pemberontak Kokang di Kota Laukkai.

Melihat kenyataan itu, Usman mengatakan bahwa krisis kemanusiaan di Rakhine bukan lah konflik antaragama maupun benturan Muslim dan non-Muslim di Myanmar.

“Meski benar bahwa serangan terhadap Rohingya didasarkan karena identitas dan keyakinan mereka, tapi ini bukan konflik agama karena serangan militer tidak hanya menyasar Rohingya, tapi etnis lain yang beragam di Rakhine dan belahan wilayah lainnya,” tutur Usman.

Karena itu, Usman mendorong agar masyarakat, khususnya di negara mayoritas Muslim, untuk tidak cepat menyimpulkan bahwa masalah berkepanjangan yang dihadapi Rohingya ini semata-mata berakar pada isu agama.

“Kami mengimbau bagi pihak-pihak yang menyerukan jihad ke sana untuk tidak keliru memandang isu ini sebagai konflik agama. Jangan sampai kita malah mempersulit keadaan mereka di Myanmar,” ujar Usman ketika ditanyai soal munculnya seruan dari sejumlah kelompok masyarakat untuk berjihad ke Myanmar guna menolong Rohingya.

Tanam ranjau

Di sisi lain, laporan terbaru Amensty International juga menemukan bahwa otoritas Myanmar menanam ranjau di sekitar perbatasan dengan Bangladesh untuk menghalau pengungsi Rohingya yang ingin kembali.

Haigh menuturkan, dalam sepuluh hari terakhir, timnya di perbatsan Bangladesh telah bertemu dan mewawancarai beberapa pengungsi Rohingya yang menjadi korban ranjau tersebut.

“Kami punya bukti Myanmar menananam ranjau di suatu daerah perbatasan yang ramai dilalui pengungsi Rohingya. Kami mendasari itu dari sejumlah saksi mata yang melihat bahwa militer Myanmar berpatroli sambil menanam ranjau tersebut pada malam hari,” katanya.

Sebelumnya, pemerintah Bangladesh, yang selama ini menampung lonjakkan pengungsi Rohingya terbanyak, pun telah melontarkan protes kepada Myanmar karena diduga menanam ranjau di perbatasan kedua negara.

Tiga sumber yang dikonfirmasi Reuters pada 7 September lalu juga mengatakan Bangladesh telah mengirimkan sebuah surat protes kepada Myanmar. Surat itu berisi teguran karena Myanmar dianggap melanggar norma internasional dengan menggunakan ranjau.

cnni/has