Insiden Putri Diana & Kekuatan 'Hengpong Jadul Cekrak-cekrek'

Administrator - Kamis,31 Agustus 2017 - 19:00:45 wib
Insiden Putri Diana & Kekuatan 'Hengpong Jadul Cekrak-cekrek'
Putri Diana meninggal 20 tahun lalu dalam kecelakaan mobil, saat berusaha menghindari dari kejaran paparazi. AFP Pic/ PATRICK RIVIERE/cnni

Jakarta: Berita selebriti boleh saja dianggap sebagai ‘sampah.’ Tapi faktanya, banyak orang terobsesi pada kehidupan penuh glamor atau skandal mereka.

Nama besar dan populer memang selalu bikin penasaran. Tapi bisa juga membahayakan. Lihat saja apa yang terjadi pada Putri Diana dan Dodi Al Fayed tepat 20 tahun lalu. Mereka kecelakaan mobil dan meninggal di tempat saat berusaha menghindar dari paparazi yang mengepung di Paris.

Paparazi itu tengah memburu hubungan Diana dan Al Fayed, yang tercium usai kisah sang putri Kerajaan Inggris dan Pangeran Charles berakhir.

Mereka lalu ‘disalahkan’ atas kematian Diana. Sembilan fotografer Perancis bahkan saat itu sempat dibui dengan tuntutan pembunuhan yang tak direncanakan, meski kemudian dilepas pada 2002 dan diketahui bahwa sang sopir yang mabuklah yang sebenarnya jadi ‘biang keladi.’

Namun bagaimana paparazi memburu selebriti, tetap jadi perbincangan.

Ironisnya, meski sudah ada insiden kecelakaan Diana yang menjadi ‘tamparan,’ kultur di dunia paparazi tak berubah sampai sekarang. Di belahan dunia mana pun, tetap ada fotografer atau reporter iseng yang sengaja mengincar kehidupan pribadi selebriti, lalu menjualnya.

Mereka adalah ‘mata pisau’ media hiburan. Foto Katy Perry menggaruk bagian intimnya di pantai atau Taylor Swift berdaster di sebuah balkon hotel, hanya bisa didapat oleh mereka yang memang berniat ‘mencuri.’

Bagi mereka, hasilnya pun lumayan. Foto pertama Angelina Jolie dan Brad Pitt saat liburan di Namibia, mengutip Sydney Morning Herald, dihargai US$250 ribu atau Rp3,3 miliar. Harga yang sama berlaku untuk foto Kylie Minogue dan Olivier Martinez di pulau sebelum ia punya kanker payudara.

Media-media pemicu gosip seperti TMZ sangat tergantung pada pekerjaan paparazi. Mereka membeli foto bak mandi penuh air tempat ditemukannya Whitney Houston meninggal pada 2012, dengan US$1.000 (Rp13 juta).

Tapi belakangan ini, paparazi mengaku mereka ‘berdarah-darah.’ Mereka sulit menjual foto. Bukan karena media sudah sadar dan mulai membeli dari situs-situs berlangganan, melainkan semakin banyaknya media sosial.

Artis yang bersangkutan bisa mengunggah sendiri foto mereka liburan berdua atau berciuman. Masyarakat yang melihat pun bisa mengabadikannya bak paparazi, lalu mengunggahnya ke media sosial mereka sendiri.

Saat Justin Bieber dilempar botol di tengah konser karena menolak menyanyikan Despacito misalnya, media tahu dari unggahan fan di medsos. Media lebih memilih mengambil langsung dari sumber semacam itu.

Konsep paparazi mungkin tak terlalu dikenal di Indonesia. Fotografer yang ingin memotret selebriti, tinggal bekerja saja di media. Penggemar yang bertemu idola, lebih memilih foto bersama, lalu mengunggahnya di media sosial. Itu akan lebih banyak direspons suka oleh followers-nya.

Namun belakangan, ‘paparazi’ mulai marak. Dan seperti di luar negeri, mereka kini bukan lagi fotografer sungguhan yang ke mana-mana mengepung selebriti dengan lampu jepret yang menyilaukan. ‘Paparazi’ sekarang lebih pada orang biasa yang menjepret momen dengan ponsel mereka.

Apalagi sejak adanya akun yang sengaja menyebar gosip seperti Lambe Turah, Lambe Nyinyir, Jeng Kelin atau IGtainment, dan lain-lain.

Mereka bukan hanya ‘menyortir’ kabar terbaru selebriti dari akun-akun resmi artis yang bersangkutan. Akun gosip itu bahkan ‘melaju’ lebih cepat dari media hiburan, karena mengumpulkan ‘buruan’ dari orang biasa yang kebetulan bertemu selebriti dan memotret momen mereka.

Entah berapa akun-akun anonim itu biasanya membayar video atau foto jepretan orang biasa, atau sosok di lingkar terdekat artis, untuk kemudian diunggahnya. Yang jelas, mereka pun punya banyak followers yang mungkin bahkan bersedia membagikan hasil buruannya secara suka rela.

Video Sheila Marcia berdansa di kelab malam, Raditya Dika berjalan-jalan bersama kekasih, sampai undangan dan tanggal pernikahan Hamish Daud-Raisa yang bocor, adalah ‘ulah’ para ‘paparazi’ modern itu.

Entah bagaimana itu berdampak pada kehidupan selebriti. Apakah kini para selebriti merasa lebih ketakutan melangkah ke luar rumah dan melakukan apa yang mereka suka, karena semua orang bisa menjadi ‘paparazi’ dengan hengpong jadul cekrak-cekrek-nya? Hanya selebriti itu sendiri yang tahu.

Bisa jadi mereka justru suka jadi pemberitaan.

Yang jelas, paparazi sekarang bisa lebih ‘ganas.’

Berharap saja, mereka tak sampai membahayakan nyawa dengan mengejar-ngejar selebriti demi ‘menjual’ foto ke akun gosip, yang bisa berakhir seperti insiden Diana di terowongan Paris, 31 Agustus 1997 lalu.

vws/cnni