Google Didenda 2,42 Miliar Euro oleh Uni Eropa

Administrator - Selasa,27 Juni 2017 - 19:53:33 wib
Google Didenda 2,42 Miliar Euro oleh Uni Eropa
Google didenda Uni Eropa senilai 2,42 miliar Euro karena dianggap melanggar aturan anti-monopoli. REUTERS Pic/Aly Song/Cnni

Jakarta: Google didenda sebesar 2,42 miliar Euro oleh Uni Eropa (UE) karena menyalahgunakan peran sebagai mesin pencari untuk mempromosikan toko online milik sendiri di fitur Google Shopping.

Regulator Eropa memberikan waktu 90 hari bagi raksasa teknologi tersebut menghentikan aktivitas ilegalnya, atau membayar denda hingga 5% dari rata-rata perputaran harian pendapatan perusahaan induk mereka, Alfabet, di seluruh dunia.

Denda senilai 2,42 miliar Euro itu adalah denda tertinggi yang pernah dijatuhkan UE. Sebelumnya, nilai tertinggi adalah ketika UE mendenda Intel senilai 1,06 miliar Euro pada 2009, juga karena melanggar aturan antimonopoli.

Komisaris UE Margrethe Vestager yang bertanggung jawab atas kebijakan antimonopoli pun angkat suara.

"Google telah menghasilkan banyak produk dan layanan inovatif yang berhasil mengubah hidup kita semua menjadi lebih baik," katanya. "Itu memang bagus. Tapi strategi Google dalam membandingkan layanan toko onlinenya bukan soal menarik perhatian konsumen dengan memberikan layanan terbaik."

"Google menyalahgunakan dominasi sebagai mesin pencari dengan mempromosikan toko online milik mereka sendiri di mesin pencari, dan menjatuhkan pesaing mereka."

"Apa yang Google lakukan adalah ilegal berdasarkan peraturan antimonopoli UE. Tindakan Google ini merusak persaingan sehat," kata Margrethe.

Hal yang terpenting, kata Margrethe, hal ini dapat menghambat konsumen Eropa dalam menemukan pilihan layanan inovatif yang asli dan bermanfaat.

Google menyangkal tuduhan tersebut dan mengatakan bahwa iklan tersebut bertujuan memudahkan konsumen untuk menemukan yang mereka inginkan.

Denda Uni Eropa dijatuhkan setelah menggelar penyelidikan tujuh tahun. Pada Juli tahun lalu, UE menyatakan bahwa perusahaan teknologi tersebut telah bersalah memanipulasi hasil mesin pencarian untuk mendukung layanan Google Shopping, yang menawarkan perbandingan harga pada produk.

Saat itu Google pun membantah tuduhan ini.

vws/Cnni