Analisis

'Kekalahan' Media Sosial dan Kemenangan Donald Trump

Administrator - Jumat,11 November 2016 - 18:49:19 wib
'Kekalahan' Media Sosial dan Kemenangan Donald Trump
Kandidat Presiden Hillary Clinton dan Presiden Terpilih Donald Trump. Cnni Pic
RADARRIAUNET.COM: Dilansir dari Cnnindonesia.com, kemenangan Donald Trump pada pemilihan Presiden AS mengundang pro dan kontra, mengingat hasilnya jauh berbeda dari sejumlah jajak pendapat yang kerap mengunggulkan calon dari Partai Demokrat Hillary Clinton.
 
Bukan rahasia umum bahwa di media sosial, Trump sering di-bully karena ucapan kontroversinya. Beberapa kali netizen pun sering mencibir dia karena sering kalah berdebat dari Clinton.
 
Namun fakta mengejutkan ini disebut oleh Phil Ross, analis media sosial Socialbakers bahwa media sosial tidak bisa dijadikan tolak ukur utama, mengingat hal itu tidak mencerminkan situasi yang sebenarnya di lapangan untuk lanskap pra-pemilu.
 
"Kami memang memantau aktivitas media sosial selama proses kampanya dan topik apa saja yang diperbincangkan melalui saluran media sosial. Faktanya semua yang diperbincangkan di sosial media tidak mewakili situasi sebenarnya karena banyak pemilih yang cenderung bungkam di media sosial," ungkap Ross seperti dilansir Techcrunch.
 
Trump Menang karena Peran Facebook?
 
Facebook dituding ikut bertanggung jawab atas terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat. Hal itu membuat heran Mark Zuckerberg. 
 
CEO Facebook itu menolak mentah-mentah anggapan berita palsu yang menyebar di media sosial miliknya berpengaruh pada pemilihan presiden  kemarin.
 
"Secara pribadi, saya rasa teori bahwa berita palsu di Facebook -yang jumlahnya sedikit- memengaruhi pemilihan adalah ide yang cukup gila," aku Zuckerberg pada Kamis (11/11).
 
Sepanjang proses pemilu presiden AS lalu, laporan-laporan palsu mengenai Donald Trump dan Hillary Clinton berkali-kali menjadi viral di berbagai media sosial, terutama Facebook. Namun konten viral itu, menurut laporan Buzzfeed, lebih banyak memuat kebohongan. 
 
Facebook yang kini tercatat memiliki lebih 2 miliar pendaftar dianggap bersalah karena pasif dalam memerangi peredaran konten-konten yang tak akurat. 
 
Tak heran saat ini beberapa lembaga peneliti berlomba-lomba mencari korelasi aktivisme di ruang Facebook dengan pilpres AS seperti yang dilakukan Buzzfeed.
 
Di tengah pembelaannya, Zuckerberg juga mendorong bagi mereka yang mengkritik perusahaannya untuk lebih cermat dalam menyampaikan tuduhan.
 
"Saya merasa tak ada cukup empati dari mereka dengan menempatkan berita palsu sebagai satu-satunya alasan masyarakat dalam menentukan pemimpinnya," kata Zuckerberg berkilah.
 
Pemilihan presiden AS yang baru saja berlalu diyakini sebagai pemilu paling memecah belah penduduk. Sejumlah penelitian menemukan media sosial memainkan peran dari keyakinan itu.
 
Sebuah penelitian dari Pew Research Center menunjukkan 20 persen pengguna media sosial mengubah pandangannya mengenai isu sosial atau politik setelah mengonsumsi konten di media sosial. Itu sebabnya peran teknologi sang medium dalam hal kurasi konten sangat menentukan apa yang dibaca oleh penggunanya.
 
Facebook misalnya, algoritma yang ada di situs ini adalah jenis algoritma yang mempelajari jenis konten yang disukai penggunanya. Semakin sering seseorang menyukai satu jenis konten, maka lini masanya akan dipenuhi jenis konten tersebut.
 
Algoritma Facebook juga akan mengartikan tindakan itu sebagai perintah untuk mengurangi hingga melenyapkan jenis konten yang berlawanan dengan selera sang pengguna.
 
Dalih Zuckerberg bahwa teknologi algoritma yang dipakai Facebook saat ini bukan penyebab dari banyaknya berita palsu bertolak belakang dengan temuan Profesor Christian Sandvig dari University of Michigan yang diumumkan pertengahan 2015. Hasil penelitian Sandvig menunjukkan adanya polarisasi dan selektivitas berlebih oleh pengguna Facebook.
 
"Semakin sedikit berita yang anda tak sukai yang dibagi oleh teman anda terlihat di lini masa karena algoritma tak menunjukkannya," tulis Sandvig dalam penelitiannya seperti dikutip dari dilaporkan Medium.
 
Penelitian itu juga merangkum bahwa algoritma Facebook mengurangi keragaman jenis konten dan pengaturan tampilan lini masa mengarahkan pengguna untuk mengklik konten yang ingin dilihat saja.
 
Selama periode akhir jelang pemilihan suara, pendukung Trump diketahui mulai berani 'buka suara' di media sosial. Data statistik menunjukkan keterlibatan media sosial mampu melampaui ekspektasi awal banyak orang.
 
Sementara itu, lembaga analis lain SimplyMeasured juga mencatat sentimen positif terhadap Donald Trump di media sosial cenderung naik jelang hari pemilihan.
 
The Wall Street Journal mengutip hasil analisis 4C Insight menyebut dukungan terhadap Trump melaui layanan Facebook dan Twitter mencapai puncaknya sejak awal Oktober hingga 7 November. Komparasi sentimen positif terhadap Trump dibanding Clinton pada masa itu yakni 58 persen dan 48 persen.
 
Lembaga riset Spredfast justu melihat adanya tanda-tanda yang berbeda pada Hari Pemilu dengan prediksi yang telah mereka buat. Spredfast menggarisbawahi adanya sejumlah pendukung Trump yang memilih bungkam di ranah media sosial.
 
Senada dengan Phill Ross, Chris Kens dari Spredfast mengatakan ada berbagai faktor yang saling bertolak belakang terkait dengan persaingan Trump dan Clinton di ranah media sosial. Meski kerap diunggulkan, nyatanya dalam hasil perhitungan cepat Trump justru berhasil mempecundangi Clinton.
 
Karen North, Kepala Profesor Program Master Media Sosial di University of Southern California mengatakan perbedaan hasil perhitungan cepat dengan jajak pendapat politik yang ramai di jagat maya merupakan suatu kejutan yang tidak mengejutkan, karena memicu pertanyaan besar terkait demografi responden.
 
Menurutnya, sosial media yang mewakili beragam latar belakang usia, ras, gender, status sosial ekonomi, sebaiknya hanya digunakan untuk memprediksi tingkah laku pemilih. Hal itu merupakan hal-hal lazim yang kerap dibagikan ke banyak orang.
 
Komentar kontroversial Trump mengenai perempuan dan Islam membuat pendukungnya enggan mengakui secara terang-terangan dukungan di ranah media sosial. Hal itu disebut North terlalu berisiko untuk kehidupan sosial mereka dan menghindari kritik.
 
"Kebanyakan orang memlih untuk berada di tempat yang bisa membuat mereka nyaman mengekspresikan diri, sementara dalam pemilihan presiden kebanyakan tidak," kata North seperti dikutip CNet. 
 
evn/cnni