IDI Siak Nilai Pendidikan Dokter Layanan Primer Hanya Buang Waktu

Administrator - Selasa,25 Oktober 2016 - 12:20:12 wib
IDI Siak Nilai Pendidikan Dokter Layanan Primer Hanya Buang Waktu
Logo IDI. flickr
RADARRIAUNET.COM - Ikatan Dokter Indonesia Cabang Kabupaten Siak, Provinsi Riau, menolak program pendidikan Dokter Layanan Primer (DLP) karena dinilai hanya akan membuang waktu.
    
"Kalau kita menempuh pendidikan layanan primer lagi selama 3-4 tahun, kapan kami para dokter akan terjun ke lapangan secara langsung," ujar Ketua IDI Cabang kabupaten Siak Beni Chairuddin saat perayaan hari IDI ke-66 di Siak, Senin.
    
Dia mengatakan bahwa untuk menempuh pendidikan menjadi seorang dokter umum menghabiskan waktu sekitar tujuh tahun. Katanya, pada dasarnya DLP sudah didapatkan selama masa pendidikan.
    
"Dari 120 ribu dokter di indonesia 80 ribu lebih di antaranya adalah dokter umum," ucapnya.
    
Dia kembali menjelaskan bahwa pendidikan awal yang ditempuh oleh seorang calon dokter yakni selama empat tahun. Dua tahun selanjutnya harus menjadi Koas atau dokter muda yang melakukan praktik di rumah sakit atau difasilitas kesehatan lainnya pada daerah terpencil sebelum menempuh ujian.
    
Selain itu katanya lagi, DLP hanya akan membuat diskriminasi di antara dokter di Indonesia. Menurutnya tidak semuanya mampu untuk melanjutkan pendidikan ke prodi dokter layanan primer.
    
"Tidak semua orang bisa bersekolah spesialis, dan pendidikan primer. Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak mampu untuk melanjutkan pendidikan layanan primer. Apakah posisi mereka tidak dianggap? Padahal mereka sudah bersekolah lama-lama sekian tahun untu mendapatkan gelar dokter," paparnya.
    
Dia berpendapat bahwa pemerintah seharusnya meningkatkan kualitas pendidikan dokter itu sendiri, bukan menambah programnya yang hanya akan memberatkan dan menambah beban.
    
"Kalau masalahnya dokter-dokter umum itu tidak siap pakai, perbaiki pabriknya terlebih dahulu. Tingkatkan terlebih dahulu akreditas fakultas kedokteran yang ada di Indonesia ini," jelasnya.
    
Terang Beni, dari 72 fakultas kedokteran yang ada di Indonesia, baru 17 fakultas yang terakreditasi A, selebihnya hanya akreditasi B dan C.
 
 
ant/radarriaunet.com