Sungai Indragiri Berubah Jadi Keruh dan Kumuh, Pemerintah Kuansing dan Inhu Harus Bertanggung Jawab

Administrator - Senin,24 Oktober 2016 - 12:12:18 wib
Sungai Indragiri Berubah Jadi Keruh dan Kumuh, Pemerintah Kuansing dan Inhu Harus Bertanggung Jawab
Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin. grc
RADARRIAUNET.COM - Kondisi air sungai indragiri atau kuantan yang mengalir dari Kabupaten Kuantan Singingi hingga Kecamatan Kuala Cenaku, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau sudah sangat memprihatinkan.
 
Air yang dulunya bersih dan bening, kini berobah menjadi keruh dan kumuh. Bahkan, sejak beberapa tahun terakhir, air sungai itu tak pernah lagi terlihat mengalir dengan jernih.
 
Hal itu tentunya menimbulkan kehawatiran masyarakat yang berdomisili di sepanjang aliran sungai itu. Apa lagi, sungai tersebut dulunya menjadi sumber air dan sumber mata pencarian warga sekitar yang berprofesi sebagai nelayan.
 
"Nasi sudah jadi bubur, pencemaran dan kerusakan sungai saat ini sudah sangat parah. Ditambah, menjamurnya aktivitas Peti (penambang emas tanpa izin) disepanjang aliran sungai itu," ujar Hengky (38) warga Desa Kota Medan, Kecamatan Kelayang, kepada awak media, Jumat (21/10/2016).
 
Disebutkannya, rusak dan tercemarnya sungai tersebut tentunya tidak terlepas akibat pembiaran pihak pemerintah daerah, dalam hal ini instansi dan institusi terkait. Baik yang ada di Kabupaten Inhu maupun di Kabupaten Kuantan Singingi yang merupakan daerah yang berada di hulu sungai itu.
 
"Tidak hanya disebabkan oleh aktivitas ribuan penambang emas tanpa izin, diduga kuat sungai tersebut juga telah dicemari oleh limbah pabrik kelapa sawit yang ada di dua kabupaten tersebut," tuturnya.
 
Dengan demikian, selaku masyarakat, dirinya berharap pada pemerintah untuk dapat mempertanggung jawabkan semua ini dan lebih aktif serta tegas dalam menindak setiap pelaku pencemaran tersebut. Jika tidak, maka hal itu akan menjadi petaka besar bagi generasi yang akan datang.
 
"Jika saat ini, air dan hasil sungai tersebut tidak lagi bisa kita manfaatkan, bagai mana 5 atau 10 tahun yang akan datang, mungkin air sungai itu bisa berobah menjadi racunan bagi anak cucu kita kelak," pungkas pria yang aktif di salah satu organisasi lingkungan itu.
 
 
grc/radarriaunet.com