Tim Karlahut Rohul Mantapkan Persepsi Hadapi Bencana Alam

Administrator - Selasa,11 Oktober 2016 - 10:39:57 wib
Tim Karlahut Rohul Mantapkan Persepsi Hadapi Bencana Alam
Tim Satgas Penanganan Karlahtu Rohul menggelar rakor sehari. Tujuannya untuk memantapkan persepsi menghadapi bencana alam. rtc
RADARRIAUNET.COM - Mantapkan persepsi dalam menghadapi bencana alam, terutama kebakaran lahan dan hutan (Karlahut), Tim Satgas Penanganan Karlahut Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) sehari.
 
Rakor di kantor BPBD Rohul, Senin (10/10/16), melibatkan lintas instansi terkait, seperti TNI, Polri, BPBD, Polisi Pamong Praja, Badan Lingkungan Hidup, namun tidak melibatkan pihak Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Rohul.
 
Rakor dihadiri Kapolres Rohul AKBP Yusup Rahmanto, Kepala Pelaksana BPBD Rohul Aceng Herdiana, Danramil 02 Rambah Kapten Arm Alza Septendi, Pol PP, dan BLH Rohul.
 
Usai Rakor, Kapolres Rohul AKBP Yusup Rahmanto mengatakan Rakor sehari ini untuk menyatukan persepsi lintas instansi dalam rangka menghadapi bencana asap, sebagai dampak Karlahut di Kabupaten Rohul, mulai langkah preventif, pelaksanaan, dan setelahnya.
 
Dari sisi preventif, Tim Satgas sosilisasikan tentang larangan membakar lahan dan hutan ke masyarakat, menggerakkan masyarakat untuk aktif, apalagi BLH Rohul punya program Masyarakat Peduli Api atau MPA, dan Satpol PP punya program Masyarakat Siaga Bencana atau MSB, dimana setiap RT ada satu Linmas.
 
"Nanti ini semua bisa kita galang (MPA dan MSB)," ujar AKBP Yusup.
 
Tim Satgas juga akan menggalang seluruh perusahaan. BPBD Rohul akan mengundang seluruh perusahaan agar terlibat di setiap kebakaran lahan atau hutan terjadi di sekitarnya.
 
"Perusahaan harus punya pasukan Pemadam Kebakaran (Damkar), kedua punya peralatan, kemudian harus punya resapan air di areal perusahaan, nanti kita akan tekankan untuk memiliki itu," jelasnya.
 
Menurutnya, sudah seharusnya perusahaan ikut membantu saat terjadi kebakaran di sekitar, sebab belum semua perusahaan sadar dengan lingkungan sekitar, meski tidak sedikit yang masuk cuek.
 
AKBP Yusup mengakui kendala dialami Tim Satgas Penanganan Karlahut adalah pemadaman di Kecamatan Bonai Darussalam. Pasalnya, karateristik lahan di daerah ini jenis gambut.
 
"Sudah kita padamkan, namun karena tekstur tanah gambut, api tidak sepenuhnya padam. Saat angin kencang, api terus menjalar di lapisan bawah (menyala)," ungkapnya.
 
Kapolres Rohul juga mengakui Tim Satgas kerap mengalami kendala sumber air yang jauh. Dari pembahasan, nantinya akan dilibatkan Camat, Kapolsek, Bhabinkamtibmas, pihak desa dan kecamatan untuk mendata semua aliran sungai di daerahnya.
 
"Sehingga saat ada kebakaran memudahkan petugas sungai mana yang akan dituju," tuturnya.
 
AKBP Yusup mengakui penegakan hukum juga terus dilakukan Polres Rohul dan Polda Riau. Bila memang ada unsur kesengajaan membakar lahan terutama dari unsur masyarakat, saksi-saksi lengkap, dan alat bukti lengkap, Kepolisian tetap memprosesnya.
 
Sejauh ini, Polres Rohul sendiri sedang Sidik 3 perkara dan Lidik 2 perkara pembakaran lahan melibatkan masyarakat. Ditanya soal dua koperasi yang kabarnya ditindak, AKBP Yusup mengakui hal itu jadi wewenang Polda Riau.
 
"Kendalanya alat bukti harus kuat, sebab petunjuk harus dibuktikan, berbeda dengan tangkap tangan," terangnya.
 
Di Kabupaten Rohul, sambung AKBP Yusup, ada tiga titik rawan Karlahut, pertama di Bonai Darussalam, KHDTK Bukit Suligi, dan kawasan Rawa Seribu di Desa Mahato Kecamatan Tambusai Utara yang baru kali terbakar.
 
KHDTK Bukit Suligi yang berada di Kecamatan Rokan IV Koto, Pendalian IV Koto, Tandun, dan Kabun juga masuk rawan kebakaran.
 
Petugas kerap mengalami kendala saat proses pemadaman, karena tantangan alam lumayan cukup sulit, medan berbukit, dan sumber air cukup jauh. Dari itu, BPBD Rohul diminta mengajukan penambahan peralatan sehingga air danau bisa dipakai untuk pemadaman sampai radius beberapa kilo.
 
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Rohul Aceng Herdiana mengakui dibandingkan tahun sebelumnya, tahun ini jumlah kebakaran agak banyak. Pemicunya, sesuai prakiraan cuaca kemarau panjang terjadi mulai April hingga Oktober 2016. Kemarau panjang dan udara panas sebabkan lahan atau hutan mudah terbakar.
 
Aceng mengakui BPBD Rohul sudah sampaikan ke Satgas Udara di Posko Utama Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru, agar ada penambahan armada helikopter, sebab sejauh ini baru satu helikopter yang baru dioperasikan.
 
"Kita mohon lah agar BNPB dapat menambah lagi armada helikopter untuk mendukung pemadaman dari udara di Bumi Lancang Kuning," tandas Aceng dan mengakui sampai kemarin, ada 5 titik api, yakni 4 titik di kawasan Bukit Suligi dan 1 titik di Tambusai Utara.
 
 
rtc/radarriaunet.com