Wacana The Fed Naikkan Suku Bunga Berpotensi Lemahkan IHSG

Administrator - Senin,29 Agustus 2016 - 11:25:51 wib
Wacana The Fed Naikkan Suku Bunga Berpotensi Lemahkan IHSG
Pidato Jannet Yellen yang memberi sinyal akan menaikkan suku bunga bulan depan yang tinggal beberapa hari lagi, diyakini membuat investor memilih menunggu. cnn

RADARRIAUNET.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi tertekan pada perdagangan hari ini, Senin (29/8), seiring adanya kecenderungan pelemahan bursa saham global hari ini. Pidato Gubernur The Federal Reserve Jannet Yellen yang memberi sinyal akan menaikkan suku bunga bulan depan yang tinggal beberapa hari lagi, diyakini membuat investor lebih memilih menunggu.

Reza Priyambada, Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia memprediksi IHSG berada dalam rentang support 5.381-5.408 dan resisten 5.465-5.489. Menurutnya, pelaku pasar akan fokus terhadap rilis beberapa data penting makro ekonomi dan rilis inflasi Indonesia pada pekan ini.

Di lain sisi, analis Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya memprediksi bergerak dalam rentang support 5.386 dan resisten 5.500. William menjelaskan, IHSG masih terus berjuang melepas diri dari fase konsolidasi di tengah arus modal asing yang masih terus membanjiri pasar modal Indonesia.

"Hal ini menunjukkan tingkat kepercayaan investor yang masih cukup tinggi terhadap pertumbuhan perekonomian dalam negeri di mana langkah sigap dari pemerintah dalam menghadapi gejolak perekonomian terlihat cukup baik," terang William dalam risetnya, dikutip Senin (29/8).

Sama halnya dengan Reza, William mengemukakan IHSG akan dipengaruhi oleh rilis data perekonomian awal bulan pada pekan ini. Menurutnya, inflasi terbilang masih cukup terkendali sehingga dapat menopang laju IHSG.

Sementara, IHSG turun sebesar 15,28 poin (0,28 persen) ke level 5.438 setelah bergerak di antara 5.419-5.456 pada Jumat (26/8). Reza menyatakan, pelemahan tersebut terjadi karena penantian pidato keputusan arah suku bunga The Fed untuk bulan September 2016.

"Lalu pelemahan IHSG juga diakibatkan oleh sikap ragu dari para analis maupun pengamat global terhadap perundingan produsen minyak, terkait kesepakatan untuk mengatasi kelebihan pasokan minyak dunia yang akan berlangsung bulan depan," papar Reza dalam risetnya.

Adapun, sentimen dari domestik sendiri karena kebijakan amnesti pajak menjadi momok tersendiri bagi pelaku pasar. Di mana realisasi dana tebusan yang masih jauh dari total target Rp165 triliun dijadikan momentum terjadinya aksi jual.

Sementara, laju bursa saham Amerika Serikat (AS) cenderung melemah sepanjang pekan kemarin. Menurut Reza, kembali melemahnya laju bursa saham AS memberikan gambaran sikap pelaku pasar yang cenderung menunggu kepastian, terutama pidato The Fed yang akan diumumkan pada pekan ini.

"Pasca pidato The Fed kemarin, kondisi bursa saham AS masih melemah. Kondisi ini terjadi setelah pelaku pasar tidak mendapatkan kepastian waktu kenaikan suku bunga AS padahal sejumlah petinggi The Fed mensinyalkan sikap hawkish dan Yellen yang memberikan signal optimis terhadap kondisi perbaikan ekonomi AS," pungkas Reza.


cnn/radarriaunet.com